Maria Christina Silalahi

Maria Chirstina Silalahi (Jakarta, 31 Mei 1993) adalah seorang seniman dan pembuat film yang saat ini tinggal dan berkarya di Jakarta. Ia salah satu anggota Forum Lenteng, sebuah organisasi nirlaba egaliter yang fokus pada aktivisme kebudayaan. Setelah menamatkan pendidikannya di bidang Kriminologi, Universitas Indonesia, pada tahun 2018, ia bergabung ke dalam platform Milisifilem Collective (kelompok studi dan produksi film dengan pendekatan senirupa dan eksperimen visual) dan menjadi salah satu pegiat utama 69 Performance Club (kelompok studi yang fokus pada seni performans dan performativitas, beranggotakan seniman-seniman muda).

Praktik keseniannya berfokus pada upaya-upaya dekonstrutif terhadap kemapanan sistem dan nilai-nilai yang bekerja pada lingkup sosial dan budaya manusia sehari-hari, dengan menekankan kritisisme terhadap pranata sosial, narasi lokal (serta korelasinya dengan ambivalensi antara isu domestik dan publik), sejarah-sejarah kecil yang terfragmentasi, dan deformasi tubuh, lewat untaian-untaian liris dan skeptis. Sudut pandang dan pendekatannya dalam mengelola karya visual secara umum dipengaruhi oleh latar belakang pendidikannya sebagai Sarjana Kriminologi yang berdasarkan perspektif sosiologis. Sebagai seorang seniman, Maria kerap terlibat dalam berbagai proyek pemberdayaan masyarakat dan pengelolaan media alternatif.

Dilatasi Lingkaran (2018; drawing pen on paper) adalah karya visual pertamanya yang mencoba secara auditif mendeformasi bentuk lingkaran dengan permainan garis dan arsir yang saling beririsan, menciptakan kontras warna hitam dan putih serta impresi keruangan yang mendalam. Pada karya-karya gambarnya yang lain, terutama yang mengeksplorasi permainan warna, semisal penggunaan medium pensil warna ataupun oil pastel, Maria melepaskan penciptaan visual pada intuisi responsif, dalam arti bagaimana tangannya memainkan garis-garis dan bidang-bidang sebagai modus komposisinya dalam mengonstruk bangunan irama yang fluktuatif dan meledak-ledak, tetapi sarat dengan lirisisme yang sangat personal.

Metode eksplorasi visual semacam itu juga dikembangkan dalam proyek film hitam-putih, lewat kerja kolaborasi bersama Luthfan Nur Rochman dan Dhuha Ramadhani, berjudul Into the Dark (2018). Film tersebut merupakan sebuah fiksi yang mengangkat isu kekerasan dalam konflik agraria, yang secara laten menjadi trauma sejarah masyarakat Indonesia dalam kaitannya dengan isu-isu kekerasan negara terhadap para aktivis. Film ini bukan hanya menekankan kritik sosial, tetapi juga kritik terhadap konstruksi film konvensional lewat eksperimen montase yang mencoba kembali ke dasar-dasar visual.

Perhatian Maria terhadap isu kekerasan juga menjelajahi cakupan yang lebih makro, misalnya praktik-praktik kekerasan oleh korporasi terhadap lingkungan. Fokus ini tercermin dalam karya found object-nya yang berjudul Di Sini Sudah Sedikit, Di Situ Masih Banyak (2019). Karya ini membingkai secara kritis konflik kepemilikan sumber daya air dengan mengontekstualisasikan penempatan puluhan botol bekas air mineral di pinggir sebuah kolam renang pada sebuah villa di Puncak, Jawa Barat, sebuah wilayah administratif yang berdekatan dengan pabrik Aqua.

Proyek residensinya di Kecamatan Pemenang, Lombok Utara, dalam rangka Bangsal Menggawe 2019: “Museum Dongeng”, menghasilkan sebuah karya yang berjudul Tapa Kelomang (2019). Karya instalasi berbentuk terompet raksasa ini merupakan hasil kolaborasi dengan Lalu Mintarja, seorang seniman lokal yang kerap menggunakan benda-benda bekas sebagai medium berkarya. Memanfaatkan lebih dari seribu botol bekas air mineral sebagai bahan utama instalasi, Tapa Kelomang dibuat sebagai manifestasi dari aksi pemberdayaan masyarakat lokal dalam menandingi dominasi industri pariwisata.

Sejak bergabung ke dalam 69 Performance Club pada pertengahan tahun 2019, Maria juga mengeksplorasi tubuh sebagai medium untuk mengembangkan “konsepsi puisi” sebagai salah satu mode bahasa di dalam seni. Upaya tersebut, misalnya, terlihat pada Gone by The Feet (2019), sebuah karya seni performans yang memangkas asumsi-asumsi jasmaniah sebagai strategi deformasi bentuk, puitisasi gerak, dan pembingkaian sinematik.

Sejak bulan Juni 2019, Maria memulai proyek yang ia sebut “residensi di rumah sendiri” untuk menginvestigasi keberadaan tradisi Batak yang terinternalisasi tapi tidak termaknai pada tubuhnya sebagai individu yang lahir dan besar di lingkungan urban. Menjejaki kembali arsip-arsip keluarga yang merupakan rekaman dari beragam penyelenggaraan peristiwa adat dan keagamaan, proyek yang kemudian dipresentasikan sebagai pameran tunggal pertamanya dengan judul Kidung si Jemaat (Kurator: Anggraeni Widhiasih, di Forum Lenteng, 13-31 Juli 2019) ini, membuahkan semacam skeptisisme terhadap konvensi adat dan agama yang selama ini menentukan cara bertindak dan berpikir manusia di dalam ikatan kekerabatan kultural turun-temurun. M 1/1 (2019) menjadi karya seni performans keduanya yang dipresentasikan ke hadapan publik luas. *

___
Maria Christina Silalahi (Photo by Manshur Zikri)