Meraup Serakan Kesadaran

Penulis: Anggraeni Widhiasih
Esai Kuratorial Pameran Tunggal Maria,Kidung Si Jemaat(Kurator: Anggraeni Widhiasih), di Forum Lenteng, Jakarta, 13 – 30 Juli 2019.

___

SEANDAINYA PRAKTIK IDEAL tradisi dan praktik keseharian tradisi di lokasi urban digambarkan sebagai dua buah garis, bagaimana posisi keduanya? Apakah menyatu, saling berjalin, atau justru berseberangan? Bagaimana mengkritisi praktik tradisi jika bahkan wawasan tentangnya berlubang-lubang sebab dijarakkan oleh urbanisasi dan segala aspek yang menyertainya?

Pertanyaan ini adalah beberapa dari sekian banyak pertanyaan dan kegelisahan yang muncul dalam proses berkarya Maria Silalahi untuk pameran tunggal pertamanya yang bertajuk Kidung si Jemaat. Sebuah kematian menjadi pemicu awalnya. Ada tradisi yang harus dijalankan, ada tuntutan domestik yang harus ditunaikan, ada permohonan yang diwasiatkan. Ikatan tradisi yang biasanya terasa samar dalam latar urban, pada sebuah peristiwa kematian rupanya menemukan momentum kekuatan untuk menyorongkan tonggak regenerasinya. Tradisi dihadirkan kembali, ritus dijalankan, norma ditegakkan. Dalam konteks tradisi kematian Batak, ia muncul dalam sebuah prosesi bernama Martonggo Raja atau sebuah musyawarah untuk mendiskusikan jalannya prosesi adat pada kematian dan pernikahan. Konon, ia dihadiri oleh mereka yang dianggap tua dan tinggi dalam tradisi, dilangsungkan dengan ujaran nasihat atau pondai bagi keluarga yang tengah menerima ritus tradisi.

Menurut tuturan Maria dan rujukan teks digital, Martonggo Raja hanya bisa dilangsungkan bagi kematian dengan status yang tinggi, dimana ia yang telah mati dianggap telah tuntas dalam menjalankan misi duniawinya. Dalam momen kematian, seorang individu akan menerima status sosial yang ditentukan dengan merujuk pada perannya terhadap keluarga dan pencapaian sosial keluarga dimana ia berada. Seorang Ayah dan Ibu menerima status yang tinggi dalam kematiannya ketika tugasnya sebagai garda kehidupan anak-anaknya dianggap tuntas. Sedangkan anak-anak bertugas memuluskan peran orangtuanya dengan memenuhi kriteria capaian yang dianggap baik secara sosial: mapan, menikah, berketurunan. Seringkali, tradisi ini berjalan dengan perangkat material yang harus diserahkan kepada keluarga maupun kelompoknya sebagai sebentuk berkat. Perihal demikian konon menyebabkan prosesi tradisi menjadi mahal, terutama ketika ia dijalankan dengan seserahan yang harus dibeli, sebagaimana yang terjadi di perkotaan. Tentu fenomena demikian belum pasti kentara terjadi ketika tradisi adat tersebut hadir dalam konteks dan lokasinya yang agraris.

Pada kematian sang Ayah di bulan Mei 2019 lalu, untuk pertama kalinya Maria mengalami prosesi Martonggo Raja. Sebuah sekat sederhana hadir di antara prosesi tradisi dan prosesi pemberkatan, juga di antara keluarga yang berduka dan mereka yang mengujarkan nasihat sebagai bagian dari prosesi. Di antara nasihat-nasihat yang ia terima, hadir pula kritik tajam tentang perilaku-perilaku di keseharian yang dianggap kurang dan/atau tidak sejalan dengan garis tatanan yang diletakkan oleh tradisi. Kala itu, antara tatanan agama, realitas urban dan tatanan tradisi semacam bercampur-aduk. Dilahirkan bukan di bumi tradisi dan mengenyam begitu banyak corak pendidikan maupun pergaulan urban, membuat terlemparnya diri ke tengah ritus tradisi yang sakral dan tak sepenuhnya dimengerti adalah sebuah pengalaman yang sungsang. Hendak meleburkan diri tetapi tak tahu, hendak meninggalkan maka akan jadi pariah, hendak mengkritik balik tapi tak punya dasar.

Situasi inilah yang kemudian mendorong Maria untuk melakukan studi tentang tradisi Batak-Kristiani yang dilakoni keluarganya sendiri, kemudian menuangkan hasil studinya itu pada medium yang sederhana dan bersifat keseharian. Terhitung sejak 31 Mei 2019 hingga sekitar enam minggu kemudian, Maria memulai penelusurannya terhadap praktik tradisi budaya Batak di lingkungan keluarganya. Aksi penelusuran ini dimulai tepat ketika Maria menginjak usia 25 tahunnya, usia perempat abad yang bisa dijadikan penanda bagi migrasi seorang manusia belia menuju dewasa.

***

MIGRASI, ATAU PERPINDAHAN lokasi, adalah salah satu unsur yang biasanya mampu menggeser konteks dan menyebabkan sebuah tatanan berubah. Sementara itu, tatanan yang menjaga realitas yang diidealkan itu bisa ajeg saja dalam keidealannya, atau justru terombang-ambing dalam persimpangan zaman, menyebabkan situasi tarik-menarik antara realitas keseharian dan keidealan. Situasi tarik-menarik inilah yang Maria coba rekam lewat aksi penelusuran dan pencatatan, yang dimulai dengan bertanya, baik pada diri sendiri, teman diskusi maupun pada mereka yang dianggap lebih tahu tentang tradisi dan agama.

Penelusuran tersebut bertemu dengan sederet representasi yang membekukan praktik ritus tradisi dalam fragmen-fragmen gambar. Ia juga bertemu dengan memori personal dan nasihat-nasihat menyerupa cerita tentang tradisi. Ada kalanya cerita itu berbeda satu sama lain, atau berlubang-lubang di sejumlah bagian. Ada kalanya ia terkesan penuh utuh hingga mudah dicatat kembali. Bahasa dan tata tradisi yang tidak tengah menjejak bumi asalnya, seringkali punya banyak nama dan bentuk, sebagai efek dari pertemuan-pertemuan dan pengadaptasian.

Tatanan tradisi dan realitas urban yang tarik-menarik tadi dipertemukan Maria lewat garis-garis yang ditorehkannya, berisi kelindan cerita dan ingatan. Representasi praktik tradisi terdahulu di tanah tradisi direpresentasikan ulang melalui torehan fisik untuk menghasilkan impresi. Sedangkan ingatan dan tuturan cerita ditorehkan ulang dalam bentuk-bentuk yang memang ditujukan sebagai impresi maupun informasi dengan medium berkarya yang relatif sederhana: kertas HVS dan spidol. Dapat dikatakan bahwa penggunaan medium ini tergolong baru dalam kekaryaan Maria, namun keduanya sebetulnya dekat dengan pengalaman Maria sebagai anak sekolah.

Selain menekankan pada aspek familiaritas sesuai dengan kerangka kerja pembuatan karya ini, kedua medium ini juga digunakan Maria sebagai usaha mengaplikasikan kebiasaan menulis rapi, sebagaimana dalam buku catatan, yang diperolehnya dari tempaan tahun-tahun belajar di institusi pendidikan formal untuk bermain di antara tatanan-tatanan. Medium kertas HVS yang biasanya diisi dengan mediasi mesin, oleh Maria justru diisi dengan kerja manual lewat torehan tangannya. Impresi-impresi yang Maria terima, baik lewat aksi mengingat, membaca atau mendengarkan, dieja kembali olehnya ketika ia menorehkan spidol dalam dua pilihan warna – merah dan hitam – ke atas lembaran kertas putih untuk menghasilkan representasi wawasan dan ingatan yang ia peroleh.

Dalam komposisi yang terpisah, torehan yang dihasilkan Maria barangkali adalah garis-garis narasi yang terpenggal, serba terfragmen, dan sifatnya modular. Tetapi diletakkan berhimpitan satu sama lain, teks dan visual Maria dapat dibaca sebagai impresi visual sekaligus sebagai paparan informasi yang bisa dibaca secara mendetail. Ia bisa dilihat sebagai kesatuan maupun sebagai fragmen-fragmen modular tentang informasi maupun garis, yang bisa dipisahkan kembali oleh garis tetapi secara bebas bisa ditatap ataupun dibaca tanpa menuntut kelinieran. Masing-masing dinding mewakili rentetan pertanyaan dan pergulatan Maria terkait tarik-menarik antara garis imajinasi keidealan tradisi dan realitas urban.

Penciptaan visual lewat kerja fisik memang merupakan dua corak kekaryaan yang kerap muncul dalam praktik-praktik berkarya Maria. Di antaranya ialah pada karya nirmananya yang berjudul Dilatasi Lingkaran (2018), karya performans yang berjudul Gone By The Feet (2019), dan karya-karya drawing oil pastel maupun pensil warnanya. Dalam gambar-gambarnya yang memakai kedua medium tersebut, Maria menggabungkan kerja fisik dan studi visual dari gambar tertentu untuk menghasilkan sebuah impresi. Aksi itu memicunya untuk lebih mengingat secara mendalam si peristiwa yang dibekukan dalam gambar atau foto, yang mana ia lakukan pula dalam proses berkarya untuk pameran ini. Dengan gambar-gambar oil pastel-nya, Maria menggelitik realitas dengan bentuk-bentuk non-realis, mungkin sebagai strategi kritis atau sebagai cara mengatasi kegagapan akibat pendidikan seni di Indonesia yang tak lengkap ia enyam. Ia sendiri menuntaskan pendidikan perguruan tinggi di jurusan Kriminologi, Universitas Indonesia. Tetapi barangkali justru latar yang berbeda itulah yang memberi nuansa kritis, dalam bentuk menggelitik, pada karyanya.

Aksi menggelitik realitas dalam bentuk yang berbeda ia wujudkan dengan membangun semacam  semesta kecil dari benda-benda temuan, yang menjelma rupa melalui tatanan garis-garis yang menjadi bentuk tertentu. Bacaan semacam ini bisa kita tangkap dalam karyanya yang berjudul Di Sana Masih Penuh, Di Sini Tinggal Sedikit (2019) dan Tapa Kelomang (2019). Menyerupai aksi-aksi yang ia lakukan pada pengkaryaan di atas, praktik Maria untuk pameran kali ini justru mengarahkan kerja fisiknya untuk menguji ketajamannya mendalami suatu persoalan yang sangat personal, namun memiliki irisan dengan publik. Mengolah bagaimana caranya pertemuan antara berbagai persoalan bisa tergarap dengan baik dalam suatu bingkai karya.

Sebagai sebuah irisan antara personal dan publik, pameran Kidung si Jemaat ini pun menjadi semacam kidung peziarahan Maria yang mencoba mengurai dan menelusuri garis-garis pengetahuan yang samar dan tumpang tindih tentang tradisi adat dan keagamaan keluarganya. Jika merujuk pada makna katanya, sebuah kidung ialah sesuatu yang sifatnya lisan, terbakukan dalam irama tertentu yang terus bisa berubah sesuai zaman. Dalam praktik jemaat Kristen Batak yang sejak lahir dianut Maria, kidung – atau lagu puji-pujian kala ibadah – termaktub dalam Buku Ende, yang merupakan perpaduan seni vokal Batak dan ritus Kristiani. Dalam tradisi Lutheran, sebagaimana yang dibawa Nommensen ke tanah Batak di tahun 1864, sebuah kidung biasanya diterjemahkan ke dalam bahasa lokal. Konon, ada kalanya ia digubah dari lagu-lagu rakyat yang sudah ada sebelum Kekristenan datang. Bahkan barangkali, kidung jemaat adalah salah satu titik dimana tawar-menawar antara tradisi awal dan tradisi pendatang bernegosiasi. Bermain dengan spekulasi ini, Maria menghadirkan sebentuk kidung seorang jemaat yang sunyi. Ia mewujud sebagai sebaran kata dan rupa yang berusaha merangkum serakan kesadaran tentang institusi-institusi yang selama 25 tahun telah bolak-balik  dialami dan diterima ajarannya oleh Maria, tanpa betul-betul menubuh padanya.

Dalam hal ini, praktik Maria sangat beririsan dengan kerja-kerja yang telah dilakukan oleh platform akumassa  yang digagas dan dikelola oleh Forum Lenteng, dipandu oleh Otty Widasari, sejak tahun 2008. Maria sendiri telah terlibat dalam praktik-praktik akumassa sejak tahun 2017, melalui keikutsertaannya dalam berbagai peristiwa seni maupun lokakarya yang dilakukan oleh akumassa. Ide terkait studi yang dilakukan Maria pada pamerannya kali ini pun tak terlepas dari pantikan dan dorongan Otty Widasari.

Penelusuran Maria yang divisualkan dengan catatan teks dan gambar menjelma sebagai sekumpulan narasi kecil tentang fenomena tradisi di lokasi urban, melalui perspektif sebuah ekosistem terkecil dalam tatanan sosial; pranata keluarga. Situasi ini menempatkan aksi yang dilakukan Maria bukan lagi semata kritik bagi sebuah fenomena, tetapi merupakan aksi pendalaman dan produksi rekaman peristiwa yang dapat diarsipkan, dan bahkan menjadi arsip itu sendiri. Produksi representasi yang dilakukan Maria sebetulnya adalah praktik pencatatan yang lazim dilakukan dalam jenis-jenis penelitian etnografis. Namun, yang membuat aksi Maria lebih sublim ialah usahanya untuk menubuhkan kembali fragmen ingatan melalui praktik produksi representasi dalam bingkai seni. Ia menghasilkan semacam mnemonic device atau alat bantu pengingat yang merekam tentang perubahan praktik tradisi Batak di tanah rantau. Di sisi lain, karya ini juga tidak bermaksud menjawab persoalan perubahan tradisi ataupun menuntaskan kegelisahan atas tegangan pertemuan antara praktik tradisi dan realitas urban. Jika diibaratkan sebagai penelitian, letak karya ini adalah pada tahapan awal penelitian yang selanjutnya akan dikerjakan lebih lanjut, harapannya, sebagai sebuah proyek jangka panjang Maria. *