Kidung Si Jemaat

[Klik di sini!] Detail Pameran dan Karya

Judul Bahasa Inggris : A Laity’s Song of Praise
Kurator : Anggraeni Widhiasih
Tipe Pameran : Pameran Tunggal
Rentang Waktu : 13 – 31 Juli 2019
Venue : Forum Lenteng, Jakarta
Proyek Terkait : residensi di rumah sendiri

Artikel Terkait:
1. Meraup Serakan Kesadaran (esai kuratorial “Kidung Si Jemaat”).

___

Judul Karya (Series):
Kidung Si Jemaat (atau A Laity’s Song of Praise)

Tahun:
2019

Medium:
Spidol hitam dan merah di atas kertas (117 lembar/pieces);
Seni performans dengan spidol dan kertas

Dimensi:
Ukuran per lembar/piece: 210 x 297 mm.

___

KIDUNG SI JEMAAT atau A Laity’s Song of Praise adalah karya berbasis proyek sekaligus pameran tunggal pertama Maria Silalahi yang diselenggarakan di Forum Lenteng dan dikuratori oleh Anggraeni Widhiasih. Pameran ini memamerkan sebagian besar hasil dari proyek seni berkelanjutan Maria yang bertajuk “residensi di rumah sendiri” (proyek tersebut akan terus dilanjutkan oleh Maria pasca-pameran tunggalnya).

Dalam Kidung si Jemaat, Maria membaca hasil pertemuan antara praktik tradisi Batak-Kristen dan konteks lokasi urban sebagai narasi kecil. Kerja penelusurannya terhadap praktik tradisi di konteks urban itu kemudian dimanifestasikan dalam mekanisme pencatatan, mirip dengan kerja produksi arsip yang menghasilkan semacam mnemonic device atau alat pengingat. Ketaksaan yang dialami dan dicatatkan Maria dalam karyanya tersebut dapat kita tafsirkan sebagai sebuah situasi liminal atau situasi ambang. Dalam karya seni, suatu liminalitas dapat menjelma sebagai daya kreasi yang mewujud pada berbagai karya.

Selain memamerkan puluhan lembar kertas berisi catatan bertulis tangan dan sketsa-sketsa gambar yang dibuat menggunakan spidol berwarna merah dan hitam, pada malam pembukaan pameran tunggal ini Maria juga menghadirkan karya seni performans, berjudul M 1/1.


Teks: dikutip dan ditulis ulang dari pengantar kuratorial yang dibuat oleh Anggraeni Widhiasih.

___

Tampilan Instalasi Karya :

___

Seni Performans: M 1/1

Ayat-ayat diinternalisasi dan “ditubuhkan” kepada para penganut sebagai hal yang patut diterima begitu saja, atas dasar kepercayaan (agama) dan tradisi (adat). Hal itulah yang kemudian dikritisi oleh Maria Silalahi melalui karya seni performans berjudul M 1/1 ini. Maria menulis secara berulang-ulang sepotong ayat dari kitab suci yang paling menonjol dalam serangkaian memori masa kecilnya, lalu menyelipkan suatu disrupsi kecil (melalui penekanan warna) sebagai manifestasi dari skeptisismenya terhadap otoritas absolut dari institusi agama dan tradisi. Ayat yang berulang seakan menjadi mantra yang mewakili suara yang berupaya membebaskan tubuh dari jeratan nilai yang menentukan tindakan, perilaku, ekspektasi, dan keinginan seorang individu di tengah-tengah masyarakat. Melalui karya seni performans ini, Maria mengajak kita untuk berpikir ulang mengenai sistem agama dan tradisi yang bekerja pada tubuh kita dan lingkungan interaksi sosial kita di dalam masyarakat yang lebih luas. (Manshur Zikri)

___

Image Karya (Detail) :

(Kumpulan arsip dari teks dan sketsa di atas kertas ini dikategorisasi dan dikompilasi berdasarkan rancangan kuratorial Anggraeni Widhiasih.)

A. Kristen, Batak, dan Maria

B. Pertanyaan Maria tentang Tradisi Batak

C. Referensi Teori Maria

D. Ritus Kematian

E. Status Kematian dalam Batak

F. Teori Maria

G. Tradisi Batak Keluarga Maria

H. Image Jawaban Maria

___

Dokumentasi Pameran :

Foto: Milisifilem Collective, Forum Lenteng, I Gede Mika, Hafiz, dan Luthfan Nur Rochman.