Tapa Kelomang

[Klik di sini!] Detail Karya

Judul : Tapa Kelomang
Tahun : 2019
Medium : Bambu, botol air mineral bekas, dan kawat
Dimensi : 800 x 180 x 180 cm
Kredit : Lalu Mintarja (Kolaborator)
Proyek : Residensi; Bangsal Menggawe 2019 – “Museum Dongeng”
Lokasi : Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat

Diproduksi selama masa residensi di Kecamatan Pemenang, Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat, dalam rangka proyek seni Bangsal Menggawe 2019: “Museum Dongeng” (Kurator: Otty Widasari) yang difasilitasi oleh Yayasan Pasirputih, instalasi berbentuk terompet raksasa ini merepresentasikan bukan hanya kritisisme terhadap isu lingkungan secara global, tetapi juga kegelisahan masyarakat lokal yang setiap harinya berhadapan dengan desakan industri pariwisata di daerah mereka. Tapa Kelomang juga membingkai isu seputar rivalitas sosial dan friksi kultural di antara subjek-subjek yang mendiami daerah itu, seperti persaingan ruang, polusi suara, dan siasat ekonomi warga, serta merefleksikan kembali makna gotong-royong. Karya ini khususnya berkaitan pula dengan upaya memahami bagaimana suatu negosiasi yang berlangsung selama proses produksi karya dapat ditekankan sebagai bagian utama dari aksi pemberdayaan yang sedang dilakukan oleh seniman, yang dalam hal ini adalah Maria Silalahi dan Lalu Mintarja, kala itu.

Dipresentasikan pada saat festival Bangsal Menggawe 2019, hasil akhir dari Tapa Kelomang diarak oleh warga ke ujung Pelabuhan Bangsal, sebuah lokasi yang bisa dibilang merupakan situs penting warga Pemenang, karena di situlah dahulu “alun-alun kebudayaan” daerah ini dimulai dan dibangun. Peniupan terompet pada malam perayaan festival (2 Maret 2019) tersebut menjadi puncak manifestasi dari konsep “warga performatif”, yaitu tatkala subjek-subjek lokal melakukan pemberdayaan mandiri dari bawah (akar rumput) dan dari daerah mereka sendiri, melakukan otokritik terhadap sesama mereka dan juga kritik terhadap berbagai pemangku kepentingan, melalui gerakan artistik yang kolektif. Wujud fisik dan bunyi Tapa Kelomang dihidupkan untuk menggugah eksistensi sekaligus esensi ruang kehidupan di lingkungan lokal Pemenang, sebuah daerah di bagian utara pulau Lombok yang di dalamnya nilai-nilai kearifan lokal secara terus-menerus bersaing dengan industri pariwisata yang mendominasi aspek sosio-ekonomi masyarakat. (Manshur Zikri).

___