STRIPVIS 2018

Detail Video

[Video Dokumentasi – Bag. 01]
PERFORMANS MEDIA SOSIAL: “NONTON NONGKRONG”
5 November 2018, 6 menit 38 detik
STRIPVIS 2018 web-blog project: “Tetangga” (Simulasi I)

Camera
Luthfan Nur Rochman, Dhuha Rahmadhani, Taufiqurrahman

Editing
Luthfan Nur Rochman

Performers:
Wilsa Naomi, Fadiah Sabila, Betharia Nurhadist, Fitria Adella Basya, Syifa Aidied, Regita Mufida R., Pradnja Pradipta Maherasvari, Teuku Naufal B., Pingkan Polla, Prashasti W. Putri, Dhuha Ramadhani, Dhanurendra Pandji, Luthfan Nur Rochman, Taufiqurrahman, & Maria C. Silalahi.

Deskripsi:

Video ini adalah dokumentasi dari kegiatan simulasi tentang media sosial dalam bentuk performans. Himpunan Mahasiswa Antropologi, FISIP UI, melalui Divisi Antropologi Visual, bekerja sama dengan MILISIFILEM Collective, mengadakan simulasi “performans media sosial” (menggunakan Instagram) ini dalam rangka kegiatan lokakarya STRIPVIS 2018, pada tanggal 5 November 2018 di lingkungan kampus FISIP UI.

___

Tentang STRIPVIS :

Program Kerja Tahunan dari Divisi Antropologi Visual, Himpunan Mahasiswa Antropologi Universitas Indonesia (Anvis Hé-MAn UI), yang mencoba membingkai satu isu yang berbeda setiap tahunnya sebagai tema utama acara. Penyelenggaraan STRIPVIS diisi dengan berbagai program acara, antara lain lokakarya seniproduksi karyapenerbitan jurnalacara diskusipameran, dan pertunjukan hiburan lainnya.

Detail Proyek

Klasifikasi : Kolaborasi; Lokakarya
Kolaborator : Hé-MAn FISIP UI & Milisifilem Collective
Status : Rampung
Rentang Waktu : 25 Oktober – 5 Desember 2018
Lokasi : Kecamatan Beji, Depok, Jawa Barat

Tema Proyek : SPECTACLE SOCIETY – Contemporary Mediated Community
Output Proyek : Pameran Bersama, “Tiga Ruang Kutek” (Kurator: Manshur Zikri)
Kanal Online Terkait : http://antropologivisual.id/stripvis-2018/

Partisipan : 

  1. Fadiah Sabila Fauzi
  2. Wilsa Naomi
  3. Teuku Naufal Barlianta
  4. Vanindra Hargyono
  5. Indrawan Prasetyo
  6. Fitria Adella Basya
  7. Syifa Nafisa Aidied
  8. Betharia Nurhadist
  9. Alberta Prabarini
  10. Pradnja Pradipta Maherasvari
  11. Regita M. Rusli
  12. Rahardhian
  13. Agnes Alvionita
  14. Afra Bahirah
  15. Agung Fajarudin

Fasilitator :

  1. Afrian Purnama
  2. Anggraeni Widhiasih
  3. Dhanurendra Pandji
  4. Dhuha Ramadhani
  5. Luthfan Nur Rochman
  6. Manshur Zikri
  7. Maria Christina Silalahi
  8. Pingkan Polla
  9. Prashasti Wilujeng Putri
  10. Robby Ocktavian
  11. Wahyu Budiman Dasta
  12. Yuki Aditya
Pengantar Proyek
(Pengantar Proyek oleh Divisi Antropologi Visual, Himpunan Mahasiswa Antropologi Universitas Indonesia)

PERKEMBANGAN TEKNOLOGI MEDIA hari ini, khususnya kehadiran media sosial, telah menghasilkan banyak perubahan dalam cara kita menghabiskan waktu; entah itu waktu untuk bekerja, ataupun waktu untuk berleha-leha. Adalah sebuah kenyataan, bahwa berbagai media sosial dianggap sebagai bagian yang esensial dari kehidupan sehari-hari. Pada awalnya, ia hanya salah satu sarana untuk berkomunikasi dengan orang lain, berbagi cerita, atau untuk berbagi informasi dalam pengertiannya yang sederhana. Kini, paltform tersebut telah semakin berkembang menjadi alat ekspresi diri dengan tujuan yang beragam. Hal ini memberikan dampak yang signifikan bagi kehidupan kita secara umum.

Konon, orang-orang tua sering berujar, “Perkembangan teknologi telah menghasilkan gaya hidup yang tidak dapat dibayangkan beberapa dasawarsa sebelumnya!” Tak jarang kita punya pengalaman, di kala seorang teman mendapat kejutan ulang tahun, ia akan meminta—atau bahkan kita pun juga berinisiatif—agar peristiwa kejutan itu direkam untuk nanti di-share di salah satu akun media sosial yang kita punya. Pengalaman semacam itu menunjukkan bagaimana realitas sosial kontemporer telah terpiuh oleh cara-cara penggunaan media zaman sekarang. Keyakinan tentang apa yang “tampak” dianggap lebih penting ketimbang apa yang nyata dialami secara langsung; beriringan dengan hasrat narsistik yang menjadi karakteristik budaya “menonton dan ditonton”. Situasi ini, adalah suatu kenyataan masa kini yang jauh berbeda dengan situasi di masa sebelum media sosial atau internet hadir ke tengah-tengah masyarakat, ketika dokumentasi dulunya hanya menjadi konsumsi pribadi dan terbatas di lingkungan kerabat terdekat saja. Faktanya, kenyataan media sosial itu adalah kenyataan mutakhir kita, warga milenial.

Dalam konteks itu, yaitu ketika kecanggihan teknologi telah melompat sedemikian jauh hingga ke titik yang tak pernah terbayangkan sebelumnya dan dengan cepat melipatgandakan efek-efek mediasi yang demikian ilusif, agaknya pengertian tentang “masyarakat tontonan” (atau yang kerap kita kenal sebagai spectacle society) pun turut mengalami perubahan. Setidaknya, perubahan dari sisi bagaimana cara kita membingkainya kini. Melihat karakteristik masyarakat media kekinian, fenomena HCI (human-computer interaction) dan gelagat baru para users pun pada akhirnya menjadi suatu persoalan yang tak terhindarkan dalam artikulasi disiplin antropologi visual kontemporer. Posisi media—atau gawai dalam kosakata kita hari ini—kiranya telah berubah, dari yang sekadar hanya sebagai tools dalam kerja-kerja antropologis, beralih menjadi elemen yang sekaligus juga merupakan content antropologis itu sendiri.

Divisi Antropologi Visual mencoba merespon dan membingkai fenomena itu lewat penyelenggaraan acara STRIPVIS 2018 dengan tema “Spectacular Society: Contemporary Mediated Community”. Sebagai bagian dari generasi media sosial, menarik kiranya jika kita kembali meninjau bagaimana posisi dan peluang generasi langgas di tengah-tengah gelombang inovasi teknologi yang tak pernah berhenti itu. Dari situ, kita bisa mengaitjalinkan persoalan-persoalan receh sehari-hari dengan konteks-konteks yang lebih global, mulai dari relasi kekuasaan dan agenda kapital, isu kemanusiaan dan lingkungan, politik praktis dan gosip selebritis, dan informasi-informasi vernakular yang kesemuanya terhimpun ringkas dan serba permukaan di layar genggam kita sehari-hari. Imajinasi artistik macam apa yang lantas dapat kita spekulasikan dalam mengkritisi situasi itu?

Catatan Lapangan
(Artikel liputan kegiatan lokakarya yang ditulis oleh partisipan)
Dokumentasi Foto Kegiatan
(Sumber foto: Himpunan Mahasiswa Antropologi Universitas Indonesia)